Blogger news

Senin, 08 Juli 2013

Komisi VIII Berharap Perbedaan Awal Puasa Jangan Menjadi Perselisihan


Beberapa tahun terakhir masyarakatIndonesia mengalami perbedaandalam penetapan awal Ramadan,menurut Anggota Komisi VIII DPR RI,Yunus Roichan hal tersebut adalahhal yang wajarNamun Yunusmeminta agar perbedaan tersebuttidak dijadikan alasan untukberselisih atau bermusuhan.
“Perbedaan adalah hal yang wajar di era demokrasi initermasuk dengan penentuanawal puasaTentu mereka memiliki dalil masing-masing dalam menetapkan awalpuasahal itu sesuai keyakinan masing-masingNamun hendaknya hal itu tidakdijadikan alasan bagi kita untuk berselisih atau bermusuhan,” kata Yunus dalamwawancara dengan Parlementaria baru-baru ini di Jakarta. 
Ditambahkan Yunusmeski demikian Kementerian Agama sebagai sebuah institusipemerintah yang secara resmi memiliki wewenang menentukan awal Ramadan harusmengajak semua ormas Islam untuk duduk bersama dalam sidang isbat.

Politik : Parpol Harus Bertanggungjawab Terkait Anggota DPR Bermasalah


Ketua DPR Marzuki Alie mengadakanacara dengan Pengurus BesarPergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMIIbertema “ Pendidikan Hukumdan Advokasi “ di Rumah Dinas JlWidyaCandra III No.10 Jakarta SelatanMinggu(7/7). Dalam sambutannyaMarzukimengapresiasi semangat paramahasiswa yang aktif dalamberorganisasi (dunia pergerakan)sebagai salah satu pilar dalam ikut mengawal proses demokratisasi di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut Marzuki menyatakan prihatin atas buruknya opini publikterhadap kinerja para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Marzuki mengatakanbahwa itu sudah menjadi resiko selaku anggota dewanMenurutnyadi negarasedemokratis seperti Amerika sekalipundi sana tingkat kepercayaan publik terhadappejabatnya juga dibawah 50%. Ia menambahkan bahwa menurut hasil survey terkiniHarian Kompastingkat kepercayaan publik terhadap anggota DPR hanya pada kisaran24-30%. “Partai politik harus ambil tanggung jawab terkait anggota DPR yangbermasalah,” tegas Marzuki.
“Rendahnya kepercayaan masyarakat hendaknya menjadi pemicu bagi kita untuk terusbekerja lebih baik lagiSemua itu harus dilawan dengan tindakan nyatadiantaranyadengan lebih banyak turun langsung ke masyarakatkita dengarkan apa yang merekabutuhkan lalu kita bantu mereka menyelesaikan masalahnya secara bertahaptidakbisa berubah seketika,” ujarnya.

Minggu, 07 Juli 2013

Abunawas - Baginda Minta Mahkota dari Sorga

Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak. Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah.

Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ. Ia bertanya kepada ulama itu. "Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?"

Ulama itu berpikir sejenak kemudian Ia berkata, "Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. Ia juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan *****ik dan keringat bercucuran pada keningnya. Ia merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilingi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"

Abu Nawas - Memindahkan Istana ke atas Gunung

Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, "Abu Nawas engkau harus memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda sambil melirik reaksi Abu Nawas.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul.


Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.